Ditulis pada tanggal 28 Juni 2016, oleh DR. Eng. Agus Naba, MT., PhD., pada kategori Berita

Jaman iku owah gingsir. Peribahasa Jawa yang menyatakan bahwa jaman itu terus mengalami perubahan. Dan sekarang ini manusia sudah sampai pada jaman atau era globalisasi dimana teknologi mendominasi kualitas kerja manusia dalam memenuhi kebutuhan pasar secara lokal/nasional dan internasional. Manusia-manusia tangguh, cerdas, inovatif, dan memiliki skill pun semakin dibutuhkan untuk mensukseskan wacana globalisasi ini.

Universitas Brawijaya sebagai pihak penyelenggara pendidikan tinggi telah menyadari perananya dalam pengembangan generasi penerus yang mampu memenuhi kebutuhan pasar. Salah satu bentuk usahanya adalah dengan diwakili oleh dua dosen Fisika UB yaitu Dr-Ing. Setyawan P. Sakti, M. Eng dan Ir. D.J. Djoko H. Santjojo, M. Phil, PhD., Universitas Brawijaya yang telah lama bekerja sama dengan Prof. Tatsuhiko Aizawa dari Shibaura Institute of Technology (SIT-Japan) ikut serta menjadi anggota dari GTI Consortium (Info lebih lengkap klik http://plus.shibaura-it.ac.jp/gti/en/member ). Sebuah konsorsium yang dibangun untuk meningkatkan kooperasi antara pendidikan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri di Jepang dan negara-negara di Asia Tenggara, yang diprakarsai oleh SIT untuk menjamin keberlanjutan globalisasi.

Lebih dari 120 anggota yang terdiri atas perguruan tinggi, perusahan swasta, agen pemerintah, dan lain-lain tergabung dalam konsorsium GTI. Lebih spesifik, tujuan dari konsorsium ini adalah memperbaiki kualitas pendidikan, memberikan pembinaan pada sumber daya manusia, menggiring adanya inovasi dan lain-lain melalui beberapa program yang dicanangkan yaitu

  1. Global Project Based Learning (PBL)
  2. International Internship
  3. International Joint Research
  4. Inter-Governmental Projects
  5. Inter-University Collaboration
  6. GTI Consortium Symposium

Dengan keikutsertaan UB dalam konsorsium GTI, tentunya memberi peluang kepada civitas akademik UB untuk dapat ikut berkontribusi dalam perkembangan globalisasi yang mau tidak mau harus dihadapi.